Online gambling platform_Betting app_Bet365

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Cloud top online untuk berjudi

KetLegLegal online casinoal online casinoika mLegal online casinouncul, poster sinetron yang diperankan oleh Morgan Oey dan Nikita Willy ini langsung menyita perhatian. Soalnya, poster tersebut mirip dengan poster dengan drama Korea populer My Lover from the Star. Nggak cuma itu, judulnya pun tak jauh beda.

Pihak rumah produksi menepis isu plagiarisme dalam sinetron Malaikat Pelindung, tahun 2017 lalu. Belum tayang, sinetron itu telah ramai-ramai diprotes dan diboikot. Gara-garanya banyak kemiripan adegan dengan drama Korea Goblin. Menurut pihak produksi, kesamaan itu hanyalah bentuk terinspirasi saja.

Membayangkan sinetron Indonesia yang berkualitas sepertinya masih angan yang harus disimpan dulu. Rasa pesimis tak terelakkan, apalagi saat melihat wajah industri sinetron kita saat ini. Banyak judul yang jadi sasaran protes dan kritikan. Adegan yang absurd sering bertaburan di layar kaca, membuat kita seketika memicingkan mata.

Sadar nggak sih kalau sinetron yang diperankan oleh Egi John dan Laudya Cinthya Bella memiliki alur yang sama dengan drama Korea  Sassy Girl Chun Hyang? Cerita cinta justru bermula dari rasa benci. Dua pemeran utama itu akhirnya dinikahkan karena satu insiden kesalahpahaman. Yang makin bikin penonton yakin kalau sinetron ini meniru drama tersebut adalah adegan perkenalan pemeran utama yang persis, yaitu pemeran utama cewek merusak ponsel pemeran utama cowok.

Nah, beberapa kali isu plagiat ‘mencoreng’ sinetron kita, tapi sayangnya nyaris nggak ada tanggapan yang serius dan terang dari pihak-pihak di belakang layar. Seakan-akan isu ini dibiarkan terus diliputi tanda tanya. Meskipun begitu, isu ini tetap awet hingga sekarang karena tak sedikit sinetron yang memiliki alur cerita yang sama dengan drama luar negeri, terutama drama Korea Selatan yang memang sedang ramai digandrungi.

Ini dia daftarnya!

Deretan sinetron Indonesia yang (diduga) meniru drama Korea | Illustration by Hipwee

Enam sinetron di atas cuma segelintir saja. Mirisnya, ada lebih dari 9 sinetron yang terseret isu plagiarisme, mulai dari meniru drama Korea atau film luar negeri lainnya. Meskipun belum ada titik terang atas tudingan tersebut, banyak orang menilainya sebagai plagiarisme karena kemiripan cerita hampir 100%. Padahal, menurut Noviar Irianto, pengamat hukum, kemiripan alur cerita sekitar 70-80 % saja tergolong plagiarisme. Apalagi, tidak ada bukti kalau pihak produksi dan penayangan sinetron mengantongi izin resmi dari pihak produksi drama yang asli.

Perubahan sistem produksi sinetron yang sekarang memberikan banyak dampak negatif ketimbang sistem yang dulu. Sebelum diterapkannya sistem kejar tayang, sinetron zaman dulu diproduksi secara keseluruhan sampai selesai. Setelah itu, barulah sinetron ditayangkan di televisi. Dengan sistem seperti itu, pihak produksi memiliki waktu yang cukup untuk memikirkan dan mematangkan ide. Berbeda dengan sekarang, pelaku di balik layar selalu diburu-buru waktu tayang, tanpa sempat ‘menggodok’ ide dulu.

Sebelum budaya pop Korea menjamur di tanah air, dugaan plagiat sudah menerpa industri pertelevisian kita. Sinetron yang tayang pada tahun 2000-an awal seperti Liontin disebut-sebut menjiplak drama Korea. Ya, sinetron Liontin yang meraih kesuksesan ini memiliki kesamaan cerita dengan drama Korea Glass Shoes.

Ketika isu plagiat menerpa sinetron yang melambungkan nama artis kakak beradik, Nana Mirdad dan Naysilla Mirdad, beberapa orang mengiranya hanya kebetulan. Namun, benarkah kesamaan ide dan plot cerita hampir seluruhnya adalah bukan kesengajaan? Apalagi, isu semacam ini nggak cuma sekali atau dua kali terjadi.

Selain gemar menampilkan adegan nggak logis, beberapa sinetron tersandung kontroversi karena memuat adegan nggak mendidik dan mempertontonkan adegan dewasa, bahkan sampai ada yang melanggengkan budaya kekerasan. Isu pekerja anak di bawah umur pun pernah menerpa industri ini, lo.

Hmm, kok mirip banget gini, ya?

Pecinta drama Korea pasti nggak asing dengan drama hits satu ini, Princess Hours. Kalau menonton sinetron Benci Bilang Cinta, mungkin pecinta drama akan sepakat kalau keduanya punya keasaman cerita. Keduanya mengusung cerita seroang cewek dari keluraga sederhana yang dijodohkan dengan anak  keluarga kaya. Bila drama Princess Hours ngomongin soal pewaris takhta kerajaan di masa modern, sinetron Benci Bilang Cinta bicara tentang penerus keluarga konglomerat.

Saat penayangan episode 1, sinetron tersebut telah menuai banyak protes. Saking hebohnya kabar itu, stasiun televisi Korea Selatan SBS yang memproduksi dan menayangkan drama My Lover from the Star pun melontarkan protes. Pasalnya, pihak stasiun televisi Indonesia belum membeli hak cipta  dan hak publikasinya.

Sistem ini pula yang disebut sebagai biang utama persoalan plagiarisme dalam sinetron. Cerita-cerita yang ditiru dari drama Korea menawarkan jaminan laku di pasaran. Apalagi, kalau drama tersebut disambut baik oleh penonton. Akhirnya, meniru sepenuhnya karya lain yang sudah hits jadi pilihan menarik dan menggiurkan meski tidak benar.



Lanjut baca dengan login terlebih dahulu.

Lalu, pertanyaannya, sampai kapan sinetron akan tetap seperti ini? Sebagai bagian dari publik, kita berhak lo mendapatkan tayangan sinetron yang berkualitas. Artinya, tayangan yang tidak hanya menghibur, tapi juga memiliki nilai-nilai edukatif atau memang dibuat dengan kreativitas sendiri.

Mengisahkan cerita yang sama dan lagi-lagi dibuka dengan episode pertama yang persis, sinetron Kejora dan Bintang dituding menjiplak cerita drama My Brilliant Legacy. Apalagi, plot cerita sampai semua pemain memiliki peran yang sama seperti dalam drama tersebut. Jadi, isu plagiarisme sangat kuat menimpa sinetron yang diperankan oleh Alyssa Soebandono dan Baim Wong itu.

Rating masih jadi patokan utama para pelaku industri kreatif dan hiburan, khusunya sinetron. Oritentasi pada rating ini menyebabkan kualitas tayangan jadi nomor kesekian untuk diprioritaskan. Selain itu, sistem kejar tayang menjadi masalah lain yang sering kali dikritik. Akibatnya, kreativitas pihak produksi ‘dipaksa’ mampet demi memenuhi target tayang dan rating.

Sebenarnya, plagiarisme dalam sinetron kita masih jadi perdebatan. Sebagian orang mengklaimnya sebagai plagiat, sebagian orang lagi menyebutnya sekadar terinspirasi saja. Plagiarisme sendiri adalah pengambilan karangan, karya, pendapat, dan sebagainya dari orang lain tanpa izin. Kemudian, pelakunya menjadikan karya orang lain bak karyanya sendiri.

Harap berlangganan  atau beli akses artikel ini untuk melanjutkan.

Deretan masalah tersebut masih menjadi PR yang belum selesai, muncul isu plagiat dalam sinetron. Berulang kali isu ini mencuat, tapi seolah para pelakunya nggak pernah jera. Terbaru, sinetron Dari Jendela SMP menayangkan Dolanan Game yang mirip sekali dengan drama seri Korea bertajuk Squid Game.

Dalam hitungan menit, sinetron itu jadi buah bibir di dunia maya. Mulai dari adegan permainan sampai konsep pakaian pemainnya persis dengan Squid Game yang sempat viral beberapa waktu belakangan. Lantaran kesamaan itu, industri sinetron Indonesia kembali menuai cibiran dan kritikan pedas. Aktor sekaligus komika Ernest Prakasa pun ikut buka suara. Sebagai pelaku dunia hiburan, ia mengecam isu plagiat tersebut. Apalagi, tindakan tidak terpuji itu dilakukan secara terang-terangan, tanpa rasa malu.

“Kira-kira apa saja sinetron yang diduga plagiat drama Korea?”

Pemain drama Korea: aktor Kim Soo-hyun and aktris Jun Ji-hyun | Credit: Wikimedia

Kendati demikian, isu plagiarisme nggak bisa lepas begitu saja dari sinetron tersebut. Para pemainnya seperti Syifa Hadju dan Bastian Steel juga menerima kritikan. Mereka diminta untuk membatalkan penayangan sinetron tersebut.