rb88 sports betting download_Baccarat experience_Foreign betting platforms_Crown Gaming_Indonesian gambling is legal

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Cloud top online untuk berjudi

Mobile loMobile lottery bettingttery bettingmobile lottery bettingaku ingin dihargai bahwa aku butuh ruang diriku sendiri dengan segala hakku sebagai manusia. Tak selalu dibatas-batasi. Saling memberi rasa aman dengan dijamin oleh keluarga, orang sekitar dan negara. Ruang itu yang sangat ingin aku kunjungi samMobile lottery bettingpai saat ini. Ruang yang dapat menghantarku ke segala arah sambil menunggu jadwal ke pintu ajal masing-masing. 

Duh, sudah terlalu jauh bahas kekesalanku dan membelot dari tema awal. Memang angel kalau bahas yang begini. Ya memang begitu, saking kesalnya pada sikap para pnganut budaya patriakal atas seorang perempuan di tengah kondisi ini.

Apalagi di zaman sekarang, banyak dari kita yang telah sadar peran perempuan tersebut. Tak tabu seperti zaman dulu, walau masih banyak kasus di sekitarku yang masih seperti itu. Susah-susah gampang memang bagi perempuan untuk memiliki ruang sendiri untuk mewujudkan cita-citanya. Minimal ia harus menjadi pengusaha dan memiliki penghasilkan agar dapat melakukan apa saja yang ia ingini. Bahkan memiliki tiket tersebut alih-alih harus menentang pandangan keluarganya sendiri.

Paling banter, beruntung bagi perempuan yang dapat menikah dengan laki-laki feminis, yang bisa mendukung cita-cita juga peran perempuan dengan menganggap perempuan dan laki-laki adalah sama-sama manusia dan sama-sama mempunyai kesempatan.

Ternyata kehidupan di masa sekarang, aku masih merasakan hal-hal yang terjadi di zaman Woolf hidup; hanya laki-laki yang boleh sekolah dan perempuan cukup sampai sekolah menengah juga sudah syukur. Mau ke mana dan bagaimana pun perempuan, ia haruslah cukup punya uang sendiri untuk melakukannya. Ya selain uang, bagiku uang ini merupakan kiasan yang berarti sebuah tiket kemana pun.

Tanpa maksud mengkampanyekan, ya aku hanya miris saja dengan peran perempuan yang selalu dipandang sebelah mata. Tak usah lah menjelek-jelekan calon lain demi mendukung dan mengkampanyekan pilihan sendiri. Emang dasar masih menganut budaya patriakal. Bikin geram. Sudah tak asing lagi jika yang dikatakan pesta demokrasi ini malah menjadi momen perpecahan rakyat dan diskriminasi kaum perempuan. 

Jika pun saat itu Tuhan tidak mentakdirkan aku dapat berkuliah, pasti orangtuaku masih keukeuh karena hanya akulah satu-satunya anak perempuan yang dapat berkuliah daripada anak perempuannya yang lain. Aku yakin alasan tersebut lahir atas keadaan ekonomi yang kurang dan kelaziman orangtua di daerahku yang menikahkan anaknya selepas sekolah menengah pertama atau lanjutan.

Bagi yang belum berkeluarga tapi diharuskan fokus membantu penghasilan keluarga pun juga sama. Ia tak ada waktu untuk berproses kreatif. Macam untuk makan besok hari saja belum tentu ada, mana mungkin mampu membeli buku-buku dan pula waktu untuk menuangkan kreatifitas menulis. Tentunya harus ada tiket ajaib itu.

Dari pernyataan Woolf aku menangkap suatu pesan yang sangat mendalam melalui pengalaman pribadiku. Ia menjelaskan perbedaan mencolok antara tokoh perempuan yang ditulis dalam karya fiksi yang ditulis laki-laki.

Di dalamnya sangat sarat budaya patriakhal. Lahirlah kebudayaan yang menyebutkan "lalaki mah panjang lèngkah (laki-laki itu panjang langkah, artinya ia bebas melakukan apapun dan kemana pun)". Dari sana, lahir pula penggambaran hidup perempuan dengan label perempuan yang sering disebut-sebut "awèwè mah ka dapur-dapur deui waè (perempuan itu ke dapur-dapur lagi aja pada akhirnya)" dengan artian bahwa ya perempuan tugasnya nikah, diatur, dan dimiliki suaminya. Tak ada yang bisa ia capai selain itu.

Jadi perempuan yang mau berkarya itu selalu penuh dengan tantangan. Malah di musim pilkada di daerahku, salahsatu calonnya jika ia seorang perempuan maka akan selalu ada celah diskriminasi di sana. Diskriminasi perempuan atas gendernya bisa jadi  itu keluar dari mulut-mulut orang yang berilmu atau tokoh penting di masyarakat.

Aku tiba-tiba teringat akan sebuah buku yang berjudul A Room of One's Own karya Virginia Woolf. Buku yang terlahir dari pengamatannya terhadap penulis karya fiksi yang kebanyakan laki-laki. Jarang sekali penulis perempuan saat itu sebelum akhirnya novelis perempuan dikenal di abad ke-19.

Terkhusus dalam menulis, baik itu fiksi atau non-fiksi. Perempuan haruslah punya ruangannya sendiri untuk berkreasi tanpa beban bekerja penuh waktu baik itu pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak, atau biasanya ditambah dengan pekerjaan membantu penghasilan tambahan untuk keluarga.

“Artikel ini merupakan kiriman dari pembaca hipwee, isi artikel sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.”

Bergerak sendiri pun harus dengan stigma-stigma kolot masyarakat sekitar. Pergi kesana-kemari sendiri atau pulang agak malam seringkali menjadi pengacau di ruangan kita sendiri. Seperti terbuang dan nilainya murah. Seperti barang dagangan yang telah expired dan tidak terjaga kualitasnya. 

Tapi tiket yang dimaksud saja juga belum cukup. Di luar itu kita masih harus dapat punya ruang yang tentunya berjauhan dengan gangguan-gangguan sosial, salah satunya dari para penganut budaya patriakal. Kalau kamu tahu, di daerahku, usiaku yang seperempat abad ini telah masuk fase leftover woman.

Sebagai perempuan, aku tak dibebaskan juga pergi kemana-mana sendiri selain keadaan tidak mendukung keamanan juga apalagi jam malam. Yang pasti dan menurutku hal yang paling membahagiakan adalah aku dapat menemui ruangku sendiri mau itu sudah menikah atau sebelum menikah. Aku ingin pendapatku didengar. Aku ingin cita-citaku didukung.

Banyak memang perempuan pembisnis saat ini, tapi akses ke ruang-ruang publik atau akses pendidikan masih terbatas oleh budaya partiakhal. Bisa jadi ini tidak berlaku untuk kehidupan perempuan yang berasal dari keluarga berpendidikan. Bagiku atau perempuan bernasib sama, hal yang cukup sulit untuk sekedar minta diizinkan kuliah oleh orangtua.

"A women must have money and a room of her own if she is to write fiction (perempuan harus memiliki uang dan ruangannya sendiri jika ia ingin menulis fiksi)". Begitu kata Virginia Woolf dalam bukunya yang berjudul A Room of One's Own.